Sabtu, 07 November 2026

Asuhan Keperawatan Retensi Urin pada Pasien Post Operasi (SDKI, SLKI, SIKI)

Asuhan Keperawatan Retensi Urin pada Pasien Post Operasi (SDKI, SLKI, SIKI)

Pengertian Retensi Urin

Retensi urin merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan mengosongkan kandung kemih secara sempurna. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien setelah menjalani tindakan pembedahan atau operasi.

Pada pasien post operasi, retensi urin dapat disebabkan oleh efek anestesi, penggunaan obat-obatan tertentu, nyeri, serta gangguan fungsi otot kandung kemih. Pasien biasanya merasakan kandung kemih penuh, tetapi mengalami kesulitan ketika ingin buang air kecil (BAK).

Masalah ini perlu mendapatkan perhatian karena retensi urin yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan distensi kandung kemih dan meningkatkan risiko komplikasi.

Oleh karena itu, perawat perlu melakukan pengkajian dan menyusun asuhan keperawatan retensi urin secara sistematis berdasarkan kondisi pasien.

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian merupakan tahap awal dalam proses keperawatan untuk mengidentifikasi masalah yang dialami pasien.

Beberapa data yang perlu dikaji meliputi:

Data subjektif (DS):

  • Pasien mengeluh sulit buang air kecil.

  • Pasien mengatakan kandung kemih terasa penuh.

  • Pasien mengeluh nyeri atau tidak nyaman pada bagian bawah perut.

  • Pasien mengatakan ingin BAK tetapi urine sulit keluar.

Data objektif (DO):

  • Tampak distensi kandung kemih.

  • Produksi urine berkurang atau tidak keluar.

  • Pasien tampak gelisah.

  • Terdapat peningkatan volume residu urine berdasarkan pemeriksaan.

  • Pasien mengalami ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara optimal.

Pengkajian juga perlu mencakup riwayat operasi, jenis anestesi, penggunaan obat-obatan, serta keseimbangan cairan pasien.

2. Diagnosis Keperawatan (SDKI)

Diagnosis keperawatan yang dapat dipertimbangkan adalah:

Retensi Urin (D.0050)

Retensi urin merupakan pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.

Beberapa penyebab yang dapat berhubungan dengan kondisi ini antara lain:

  • Peningkatan tekanan uretra.

  • Kerusakan arkus refleks.

  • Blok sfingter.

  • Disfungsi neurologis.

  • Efek agen farmakologis.

Contoh rumusan diagnosis:

Retensi urin berhubungan dengan efek agen farmakologis dibuktikan dengan pasien mengeluh sulit BAK, sensasi penuh pada kandung kemih, dan terdapat distensi kandung kemih.

Rumusan tersebut harus disesuaikan dengan faktor penyebab dan tanda gejala yang benar-benar ditemukan pada pasien.

3. Tujuan dan Kriteria Hasil (SLKI)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam atau sesuai kondisi pasien, diharapkan masalah retensi urin membaik.

Luaran: Eliminasi Urine (L.04034)

Kriteria hasil yang diharapkan:

  1. Sensasi berkemih membaik.

  2. Distensi kandung kemih menurun.

  3. Berkemih tidak tuntas menurun.

  4. Volume residu urine membaik.

  5. Frekuensi BAK membaik.

  6. Karakteristik urine membaik.

Target dan waktu pencapaian disesuaikan dengan kondisi klinis pasien.

4. Intervensi Keperawatan (SIKI)

Intervensi utama yang dapat digunakan adalah Perawatan Retensi Urine (I.04165).

A. Observasi

  • Identifikasi penyebab retensi urine.

  • Monitor efek agen farmakologis.

  • Monitor intake dan output cairan.

  • Monitor tingkat distensi kandung kemih melalui pemeriksaan yang sesuai.

B. Terapeutik

  • Sediakan privasi bagi pasien saat berkemih.

  • Fasilitasi pasien untuk BAK secara teratur.

  • Berikan rangsangan berkemih sesuai indikasi.

  • Lakukan pemasangan kateter urine jika diperlukan berdasarkan indikasi dan kewenangan klinis.

C. Edukasi

  • Jelaskan penyebab terjadinya retensi urine.

  • Anjurkan pasien atau keluarga mencatat jumlah cairan masuk dan urine keluar.

  • Ajarkan cara mengenali tanda dan gejala gangguan berkemih.

Intervensi harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan standar operasional prosedur rumah sakit.

5. Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan pelaksanaan tindakan keperawatan berdasarkan intervensi yang telah direncanakan.

Contoh implementasi pada pasien post operasi:

  • Mengkaji keluhan pasien terkait kesulitan BAK.

  • Memantau jumlah dan karakteristik urine.

  • Mengobservasi adanya distensi kandung kemih.

  • Membantu pasien mendapatkan posisi yang nyaman untuk berkemih.

  • Memfasilitasi privasi saat pasien ingin BAK.

  • Melakukan tindakan kolaboratif sesuai instruksi dan indikasi medis.

Setiap tindakan yang dilakukan harus didokumentasikan secara lengkap.

6. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui keberhasilan tindakan keperawatan yang telah diberikan.

Contoh evaluasi menggunakan format SOAP:

S (Subjective):
Pasien mengatakan sudah dapat BAK dan rasa penuh pada perut bagian bawah berkurang.

O (Objective):
Distensi kandung kemih berkurang dan pengeluaran urine mulai membaik.

A (Assessment):
Masalah retensi urin teratasi sebagian.

P (Planning):
Lanjutkan pemantauan eliminasi urine, intake dan output cairan, serta evaluasi kemampuan pasien dalam mengosongkan kandung kemih.

Kesimpulan

Asuhan keperawatan retensi urin pada pasien post operasi memerlukan pengkajian yang tepat, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan luaran, serta pelaksanaan intervensi yang sesuai.

Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI dapat membantu mahasiswa keperawatan memahami proses pemberian asuhan keperawatan secara sistematis dan terarah.

Dengan pemantauan yang tepat, perawat dapat membantu mengidentifikasi gangguan eliminasi urine sejak dini serta mendukung proses pemulihan pasien.

Catatan: Artikel ini merupakan materi edukasi bagi mahasiswa keperawatan. Penggunaan diagnosis, luaran, dan intervensi harus mengacu pada buku SDKI, SLKI, dan SIKI resmi serta disesuaikan dengan hasil pengkajian dan kondisi klinis pasien.

 

Referensi Pendukung :

Search